Jakarta, 8/4 (Forwatanews) - Luas lahan padi yang mengalami puso akibat banjir, kekeringan, dan organisme pengganggu tumbuhan selama tiga bulan terakhir mencapai 49.489 hektare (ha) atau 2,46 persen dari realisasi luas tanam tahun 2009. Menurut Direktur Jendral Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Sutarto Alimoeso, di Jakarta, Rabu, luas pertanaman padi yang mengalami puso selama Januari-Maret 2009 lebih rendah jika dibandingkan dengan luas lahan padi yang puso pada periode yang sama tahun 2008 dan rerata lima tahun sebelumnya.Data dari Departemen Pertanian menunjukkan, luasan lahan padi yang puso akibat banjir selama Januari-Maret 2009 dilaporkan seluas 48.285 hektare dari 144.468 hektare lahan yang dilanda banjir. Luasan pertanaman padi yang terkena puso selama periode itu lebih rendah dibanding luas lahan padi yang puso pada periode yang sama tahun 2008 dan rerata selama lima tahun (2003-2007). Banjir terluas terjadi di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sementara luas pertanaman padi yang puso akibat kekeringan selama Januari-Maret 2009 mencapai 986 hektare dari 18.680 hektare lahan pertanaman padi yang dilanda kekeringan, lebih tinggi dibandingkan pada periode yang sama tahun 2008 tapi lebih rendah bila dibandingkan dengan rerata selama 2003-2007 pada periode yang sama. Kekeringan terutama terjadi di lahan padi yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah.Disamping akibat kekeringan dan banjir, sebagian lahan padi juga mengalami puso karena serangan organisme pengganggu tanaman. Luas pertanaman padi yang puso akibat serangan organisme pengganggu tanaman seluas 218 hektare dari 88.117 hektare lahan padi yang dilaporkan terserang organisme pengganggu tanaman selama Januari-Maret 2009.Puso akibat serangan organisme pengganggu tanaman selama periode tersebut, lebih tinggi dibandingkan pada periode yang sama tahun 2008 dan rerata selama 2003-2007. Serangan terluas terjadi di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan.Alimoeso mengatakan, pihaknya telah memantau dan menganalisis dampak fenomena iklim dan organisme pengganggu tanaman serta berusaha mengantisipasinya.Upaya antisipasi antara lain dilakukan dengan meningkatkan penyuluhan tentang pemanfaatan informasi iklim melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan manajemen usaha tani serta melakukan perencanaan budidaya pertanaman dengan baik sesuai dengan kondisi setempat.Menurut Alimoeso, pihaknya juga berusaha memperbaiki jaringan irigasi yang rusak, baik jaringan irigasi primer dan sekunder maupun yang ada di tingkat usaha tani dan pedesaan."Kami juga menyiapkan langkah-langkah antisipasi banjir untuk meminimalkan dampak yang diakibatkan," katanya.Upaya tersebut meliputi pengiriman tim ke daerah untuk memantau dan mengkoordinir permohonan bantuan ke Dinas Pertanian setempat, pemberian bantuan sarana produksi benih untuk pertanaman yang mengalami puso di provinsi yang dilanda banjir serta mempersiapkan pemberian bantuan pupuk NPK (100 kilogram per hektare) untuk lahan pertanaman yang mengalami puso di provinsi-provinsi yang terkena banjir.Departemen Pertanian juga mengirimkan Surat Kewaspadaan Terhadap Kemungkinan Peningkatan Serangan Organisme Pengganggu Tanaman kepada gubernur di seluruh Indonesia serta melakukan gerakan pengendalian organisme pengganggu tanaman secara swadaya oleh petani dengan bantuan pestisida dari cadangan nasional atau Dinas Pertanian yang ada di daerah.Selain itu, departemen juga melakukan perencanaan dan penyiapan sarana produksi, terutama benih dan pupuk, yang diperlukan pada musim hujan 2008/2009. (SBY)
12 April 2009
LAHAN PADI PUSO 40.489 HA
Jakarta, 8/4 (Forwatanews) - Luas lahan padi yang mengalami puso akibat banjir, kekeringan, dan organisme pengganggu tumbuhan selama tiga bulan terakhir mencapai 49.489 hektare (ha) atau 2,46 persen dari realisasi luas tanam tahun 2009. Menurut Direktur Jendral Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Sutarto Alimoeso, di Jakarta, Rabu, luas pertanaman padi yang mengalami puso selama Januari-Maret 2009 lebih rendah jika dibandingkan dengan luas lahan padi yang puso pada periode yang sama tahun 2008 dan rerata lima tahun sebelumnya.Data dari Departemen Pertanian menunjukkan, luasan lahan padi yang puso akibat banjir selama Januari-Maret 2009 dilaporkan seluas 48.285 hektare dari 144.468 hektare lahan yang dilanda banjir. Luasan pertanaman padi yang terkena puso selama periode itu lebih rendah dibanding luas lahan padi yang puso pada periode yang sama tahun 2008 dan rerata selama lima tahun (2003-2007). Banjir terluas terjadi di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sementara luas pertanaman padi yang puso akibat kekeringan selama Januari-Maret 2009 mencapai 986 hektare dari 18.680 hektare lahan pertanaman padi yang dilanda kekeringan, lebih tinggi dibandingkan pada periode yang sama tahun 2008 tapi lebih rendah bila dibandingkan dengan rerata selama 2003-2007 pada periode yang sama. Kekeringan terutama terjadi di lahan padi yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah.Disamping akibat kekeringan dan banjir, sebagian lahan padi juga mengalami puso karena serangan organisme pengganggu tanaman. Luas pertanaman padi yang puso akibat serangan organisme pengganggu tanaman seluas 218 hektare dari 88.117 hektare lahan padi yang dilaporkan terserang organisme pengganggu tanaman selama Januari-Maret 2009.Puso akibat serangan organisme pengganggu tanaman selama periode tersebut, lebih tinggi dibandingkan pada periode yang sama tahun 2008 dan rerata selama 2003-2007. Serangan terluas terjadi di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan.Alimoeso mengatakan, pihaknya telah memantau dan menganalisis dampak fenomena iklim dan organisme pengganggu tanaman serta berusaha mengantisipasinya.Upaya antisipasi antara lain dilakukan dengan meningkatkan penyuluhan tentang pemanfaatan informasi iklim melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan manajemen usaha tani serta melakukan perencanaan budidaya pertanaman dengan baik sesuai dengan kondisi setempat.Menurut Alimoeso, pihaknya juga berusaha memperbaiki jaringan irigasi yang rusak, baik jaringan irigasi primer dan sekunder maupun yang ada di tingkat usaha tani dan pedesaan."Kami juga menyiapkan langkah-langkah antisipasi banjir untuk meminimalkan dampak yang diakibatkan," katanya.Upaya tersebut meliputi pengiriman tim ke daerah untuk memantau dan mengkoordinir permohonan bantuan ke Dinas Pertanian setempat, pemberian bantuan sarana produksi benih untuk pertanaman yang mengalami puso di provinsi yang dilanda banjir serta mempersiapkan pemberian bantuan pupuk NPK (100 kilogram per hektare) untuk lahan pertanaman yang mengalami puso di provinsi-provinsi yang terkena banjir.Departemen Pertanian juga mengirimkan Surat Kewaspadaan Terhadap Kemungkinan Peningkatan Serangan Organisme Pengganggu Tanaman kepada gubernur di seluruh Indonesia serta melakukan gerakan pengendalian organisme pengganggu tanaman secara swadaya oleh petani dengan bantuan pestisida dari cadangan nasional atau Dinas Pertanian yang ada di daerah.Selain itu, departemen juga melakukan perencanaan dan penyiapan sarana produksi, terutama benih dan pupuk, yang diperlukan pada musim hujan 2008/2009. (SBY)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar