Tampilkan postingan dengan label warta umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label warta umum. Tampilkan semua postingan

01 Januari 2010

Happy New Year


Segenap pengurus dan seluruh anggota Forwatan
mengucapkan
SELAMAT TAHUN BARU 2010
Semoga setiap benih kebaikan dan kerja keras yang kita tanam
akan tumbuh menjadi kebaikan dan memanen kesuksesan
di tahun yang penuh pengharapan ini.....

20 Oktober 2009

Selamat

Forwatan mengucapkan Selamat atas dilantiknya Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2009-2014, semoga semakin membawa kebaikan bagi bangsa dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

22 Agustus 2009

selamat puasa

Segenap pengurus Forwatan maupun redaksi Saung Forwatan mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1430 H kepada pembaca Saung Forwatan, semoga mendapat kekuatan untuk melaksanakan hingga akhir bulan dan mendapatkan berkah dari Allah SWT...amien.

01 Juli 2009

Indonesia Bebas Kumbang Khapra

Jakarta, 30/6 (forwatanews)- Sidang Organisasi Perdagangan Dunia - Sanitari dan Fitosanitari (WTO-SPS) di Jenewa Swiss 22-24 Juni 2009 mengakui Indonesia bebas dari kumbang Khapra sehingga bisa membuka kembali ekspor produk pertanian khususnya komoditas biji-bijian yang selama ini terhambat.Sekretaris Badan Karantina Pertanian Departemen Pertanian Hermansyah di Jakarta, Selasa mengatakan, hama kumbang Khapra ditemukan di Indonesia pada 1982 yang ditengarai masuk bersama impor beras asal Thailand dan India."Saat itu Indonesia belum swasembada beras sehingga harus mendatangkan dari India ataupun Thailand yang ternyata mengandung kumbang Khapra," katanya ketika menjelaskan hasil Sidang WTO-SPS yang diikuti delegasi Indonesia.Hermansyah yang juga menjadi Ketua Indonesia dalam sidang tersebut mengatakan, dalam pertemuan yang dihadiri sebanyak 157 negara anggota WTO-SPS itu Indonesia menyampaikan bahwa Indonesia telah bebas terhadap kumbang Khapra.Dengan deklarasi tersebut, tambahnya, maka terbuka kembali peluang Indonesia mengekspor produk pertanian khususnya pada serealia, pallet dan biji-bijian lainnya tanpa adanya hambatan yang dikarenakan "manifestasi pests".Menurut dia, sebenarnya setelah diketemukan adanya kumbang Khapra pada 1982 maka sejak 1983 Departemen Pertanian selalu melakukan evaluasi setiap tahun hingga akhirnya pada 2009 benar-benar telah dinyatakan bebas terhadap hama tersebut.Hermansyah menyatakan, dengan kondisi tersebut maka ketentuan fumigasi terhadap produk ekspor pertanian Indonesia yang sebelumnya mewajibkan menggunakan dosis tinggi maka tidak lagi diharuskan."Dengan demikian maka akan semakin meningkatkan efisiensi biaya ekspor produk pertanian Indonesia," katanya.Selama ini, tambahnya, untuk menghilangkan hama penyakit karantina kumbang Khapra maka produk pertanian yang akan diekspor diharuskan fumigasi dengan methil bromida dosis 80 gram/meter kubik.Padahal, menurut dia, biaya fumigasi tergolong tidak murah yang mana untuk satu peti kemas sekitar Rp1 juta sehingga dengan tidak diharuskannya fumigasi dosis tinggi maka berdampak pada penurunan biaya perlakuan karantina.

12 Juni 2009

Barantan miliki Pasukan K9

Tak hanya korps gegana atau satuan anti narkobaPolri yang memiliki anjing pelacak untuk menemukan barang-barang berbahaya, tapi Badan Karantina Pertanian (BArantan) Departemen Pertanian tak mau kalah dengan memanfaatkan binatang ini dalam kegiatan kerjanya.
Pasukan anjing pelacak yang juga dikenal dengan istilah K9 ( dibaca: Kei nain) ini memiliki tugas untuk melacak benda-benda yang dicurigai mengandung hama dan penyakit tumbuhan/hewan yang dikuatirkan terbawa masuk ke Indonesia dari luar bareng dengan produk yang diimpor dari negara lain.
Sayangnya saat ini pasukan K9 Badan Karantina Pertanian baru satu ekor anjing yang diberi nama Charlie. Pada 10 Juni 2009 lalu Charlie memperagakan kemampuannya melacak barang-barang berbahaya dari segi keamanan hewan/tumbuhan di hadapan masyarakat yang menyaksikan pencanangan Bulan Bakti Karantina oleh Kabarantan Hari Priyono di Bandara Soekarno-Hatta. Di hadapan para penonton, Charlie dengan lincahnya mencari-cari setiap kardus yang dicurigai mengandung bahan-bahan berbahaya. Hidungnya mengendus-endus sembari sesekali dia berhenti sejenak di depan kardus-kardus jika tercium bau yang tak lazim. Sayang ketika ditanyakan kesannya selama jadi pasukan Quarantine K9 serta pasangannya, Charlie hanya diam saja seperti selebritis yang selalu bersikap "no comment" terhadap pertanyaan-pertanyaan yang menyentil kehidupan pribadinya. (SBY)

31 Mei 2009

PESTISIDA HARUS RAMAH LINGKUNGAN

Jakarta, 31/5 (Forwatanews) - Pasar pestisida atau obat-obatan pembasmi hama di masa datang menuntut produk yang lebih ramah lingkungan yakni yang aman bagi penggunanya.
Manager Produksi PT Syngenta Indonesia Arya Yudas di Jakarta, Kamis (28/5) mengatakan, selain itu juga dituntut lebih spesifik dalam pengendalian hama yakni tanpa membunuh serangga non target serta dosis penggunaannya lebih kecil.
"Dengan permintaan pasar seperti itu maka pestisida yang hanya menggandalkan keampuhan membunuh serangga namun tidak ramah lingkungan cenderung akan ditinggalkan masyarakat," katanya dalam diskusi dengan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan).
Terkait dengan hal itu PT Syngenta, perusahaan multinasional asal Amerika Serikat perkenalkan produk pestisida ramah lingkungan yang penerapannya tidak dengan penyemprotan dan ditabur namun perlakuannya saat masih dalam benih.
Menurut dia produk bernama Cruiser itu bukan hanya ramah lingkungan, tapi diharapkan dapat membantu petani mengatasi serangan hama penyakit dan meningkatkan produktivitas tanaman.
Saat ini, tambahnya, hama penyakit yang kerap menyerang tanaman jagung yakni lalat bibit, wereng dan kutu daun sedangkan hama pada tanaman padi yakni wereng hijau, virus tungro dan hama trips.Arya mengatakan dari hasil uji coba yang dilakukan IPB, penggunaan Cruiser mampu meningkatkan produksi padi untuk GKP dari sekitar 5,4 ton/ha menjadi sekitar 7,36 ton/ha, sedangkan untuk gabah kering giling (GKG) naik dari 4,76 ton/ha menjadi 6,72 ton/ha. Dari hasil analisa usaha pada tanaman padi, lanjutnya untuk tanaman yang tidak menggunakan produk Cruiser, jika hasil panen padi 6,4 ton/ha dan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp2.500/kg, pendapatan petani sekitar Rp16 juta/ha.Sedangkan usaha tani yang menggunakan Cruiser, hasil panen akan meningkat sekitar 7,36 ton/ha. Dengan harga gabah Rp2.500/kg, pendapatan petani akan naik menjadi Rp18,48 juta.
Jika dikurangi biaya untuk membeli Cruiser sekitar Rp150 ribu, maka pendapatan petani masih sebanyak Rp18,25 juta. Artinya, ada kelebihan pendapatan sekitar Rp2,25 juta.Selain keuntungan meningkatnya pendapatan, petani juga masih bisa berhemat dengan tidak mengeluarkan biaya untuk penyemprotan pestisida dalam satu bulan sekitar Rp500 ribu. Produk yang diluncurkan April lalu, diharapkan penjualan produk Cruiser ini bisa mencapai 5 ton pada tahun ini.
Pertumbuhan penjualan ditargetkan sekitar 20-25 persen per tahun dengan nilai sekitar Rp10 miliar.Menyinggung nilai penjualan produk pestisida oleh PT Sygenta secara keseluruhan, Arya mengungkapkan untuk tahun ini mencapai 120 juta dolar AS dari 35 produk lama dan tiga produk baru naik dibanding tahun 2008 yang hanya 100 juta dolar AS. (sby)

28 Mei 2009

Eksotika Madura

by:Rz.Subagyo
Mendengar nama Madura, ingatan kita pasti selalu tertuju pada sebuah pulau di wilayah Jawa Timur yang panas, kering dan gersang serta penduduknya yang berkulit coklat gelap dan memiliki temperamen keras.
Hal itu tentu tidaklah salah karena selama ini citra Madura di media massa sebagai penghasil jagung maupun garam tentu memiliki iklim yang panas sementara sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tak segan mengadu nyawa untuk membela diri semakin mempertebal kesan-kesan itu.
Namun mengikuti perjalanan Menteri Pertanian Anton Apriyantono selama 21-22 Mei 2009 lalu ke pulau yang terkenal dengan Karapan atau balapan Sapi nya itu sungguh membuat luntur seluruhan banyangan yang melekat selama ini tentang Madura tersebut, bahkan yang ada hanyalah kekaguman terhadap pulau itu.

Kamis pagi, pelabuhan Ujung Surabaya telah ramai dengan aktivitas penyeberangan. Pulau Madura yang dipisahkan dengan Pulau Jawa oleh Selat Madura itu tak menghentikan hilir mudik warga pulau tersebut yang hendak ke Jawa ataupun sebaliknya. Dengan menaiki kapal fery perjalanan melintasi selat tersebut hanya menempuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai pelabuhan Kamal di Bangkalan Madura.
Singgah sejenak di Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan, kemudian rombongan mengawali perjalanan menuju Desa Langkap Kecamatan Burneh Bangkalan untuk melihat keberhasilan peternak sapi Madura. Perjalanan hampir dua jam itu ditempuh tanpa rasa bosan karena sepanjang kanan kiri jalan terlihat pohon-pohon asam yang sudah berumur tua masih tegak berdiri, sesekali diselingi dengan hutan jati.

Dari Desa Langkap kami menuju Pondok Pesantren Al Hamidiyah di Kecamatan Konang yang merupakan wilayah paling timur kabupaten Bangkalan dan berbatasan dengan Kabupaten Sampang. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Desa Tombaru Barat, Kecamatan Ketapang untuk melihat perkebunan jambu mete. Sayang sekali pada saat itu sedang tidak musim jambu mete sehingga kami tidak bisa merasakan segarnya buah yang juga disebut jambu monyet itu. Namun melihat pepohonan berusia di atas 30 tahun itu sungguh mengesankan.

Kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sumenep. Perjalanan menuju kabupaten yang memiliki keraton ini sekitar satu setengah jam menempuh jalur pantai utara Madura. Tak disangka ternyata pantai-pantai di kawasan ini cukup mempesona dengan keindahan alam dan suasana yang tidak terlalu ramai sehingga air di pantai masih kelihatan jernih kebiruan. Suasana yang sudah memasuki senja semakin menambah keindahan nuansa alam sepanjang pantai utara Madura.

Malam hari rombongan menginap di Kabupaten Sumenep. Pagi hari perjalanan berlanjut untuk melihat pabrik pupuk organik di Desa Saronggi. Namun sebelumnya kami sempat mengunjungi pemakaman raja-raja Sumenep, Astana Tinggi. Kompleks pemakaman yang terletak di atas bukit itu bangunannya masih terlihat berdiri megah, meski tak bisa dipungkiri gurat-gurat ketuaan terlihat pada tembok-tembok yang sudah mulai mengelupas. Sepanjang kiri-kanan jalan menuju ke makam utama Astana Tinggi akan terlihat kompleks-kompleks makam kuna yang sebenarnya layak untuk dijadikan tujuan wisata.
Perjalanan kemudian berlanjut untuk menuju kebun Buah Naga yang ada di Desa ROmbesan Kecamatan Pragan, masih di Sumenep. Hujan sempat mengguyur wilayah ini di tengah kegiatan temu wicara Menteri Pertanian dengan petani buah naga.

Selanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Pamekasan. Perjalanan sekitar 1 jam 30 menit itu melalui pantai selatan Madura yang terdapat pohon siwalan, sejenis aren. Setelah Sholat Jumat di Mesjid Agung Pamekasan yang berlokasi tepat di tengah kota di samping alun-alun, kemudian menuju pendopo Pemda untuk berdialog dengan petani, penyuluh maupun unsur masyarakat lainnya.
Desa Camplong yang merupakan sentra jambu Camplong di Kabupaten Bangkalan sebagai tujuan terakhir rombongan melakukan perjalanan di Pulau Madura. Dua malam di Pulau Madura ternyata telah merubah bayangan kami terhadap pulau yang dijuluki Pulau Garam itu. Madura ternyata tidak hanya merupakan penghasil jagung maupun garam namun juga memiliki potensi pertanian lainnya.


Tak hanya keindahan alam dan beragamnya potensi pertanian namun kerajinan batik maupun ukiran serta penduduk yang ternyata tidak segarang jawara-jawara di televisi bahkan tak sedikit wajah-wajah nan indah terlihat dengan senyumnya membuktikan bahwa Madura ternyata memiliki daya eksotika yang masih tersimpan selama ini.









26 Mei 2009

BARANTAN ANTISIPASI PEMBUKAAN SURAMADU

Jakarta, 26/5 (Forwatanews) - Pembukaan jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa,melalui Surabaya dengan Madura diperkirakan tidak hanya meningkatkan lalulintas manusia dari dan ke dua wilayah tersebut namun juga binatang ternak yang berpotensi membawa penyakit hewan.
Badan Karantina Pertanian (Barantan) Departemen Pertanian siap mengantisipasi masuknya hama dan penyakit hewan maupun tumbuhan ke wilayah Madura pasca pembukaan jembatan Suramadu.
Kepala Barantan Hary Priyono di Kabupaten Bangkalan Madura, Kamis (21/5) mengatakan, saat ini Madura merupakan kawasan yang bebas dari penyakit ternak sementara itu pasca pembukaan jembatan Suramadu yang akan dilakukan pada 10 Juni 2009 dipastikan lalu lintas hewan dari Jawa ke Madura akan meningkat.
"Oleh karena itu kita akan membangun instalasi karantina untuk melakukan pemeriksaan hewan di kawasan masuk Madura dekat jembatan tersebut," katanya disela kunjungan Menteri Pertanian Anton Apriyantono ke Madura selama 21-22 Mei 2009 lalu.

Menurut Hary, instalasi karantina yang akan dibangun di dekat jembatan Suramadu tersebut nantinya seperti jembatan timbang sehingga untuk pemeriksaan angkutan yang membawa hewan ternak tidak memerlukan waktu lama.

"Kita tinggal meminta polisi untuk membelokkan angkutan hewan ternak tersebut ke jembatan timbang itu," katanya.

Dikatakannya, saat ini prototipe instalasi serupa berada di Stasiun Karantina Pertanian Merak Banten sehingga dengan dikembangkannya model tersebut di Madura nantinya akan ada dua unit di Indonesia.

Ketika ditanyakan anggaran pengembangan instalasi karantina tersebut, mantan Kabiro Humas Deptan itu mengatakan, sekitar Rp2 miliar dan teknologinya berasal dari dalam negeri.

Sedangkan menyinggung realisasi pembangunan instalasi karantina hewan di Madura tersebut dia mengatakan, kemungkinan 2010 baru bisa diwujudkan.

Sebelumnya Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan Madura, Cicik Sri Sukarsih menyatakan, hingga saat ini Pulau Madura masih bebas dari penyakit hewan karantina seperti Brucellosis, IBR dan Rabies.

Berbagai upaya yang dilakukan untuk menjaga Pulau Madura bebas dari penyakit hewan karantina, lanjutnya, yakni pelarangan pemasukan hewan memamah biak ke Pulau Madura berkaitan pemurnian plasmanutfah sapi Madura serta pelarangan pemasukan babi ke wilayah tersebut.

Sedangkan untuk menjaga masuknya penyakit rabies, menurut dia, dibantu oleh sikap masyarakat yang umumnya mereka tidak memelihara anjing.

Menyinggung jumlah binatang ternak yang masuk ke Madura, Cicik yang dokter hewan itu mengungkapkan, pada 2008 total mencapai 1,43 juta ekor terdiri dari ayam, anak ayam (DOC), telur, itik, kuda, kambing, sapi limosin dan sapi Madura.

Sementara itu jumlah ternak yang keluar dari Madura pada tahun lalu untuk hewan mencapai 87.578 ekor terdiri sapi potong, sapi bibit, kuda, kambing, kerbau, kelinci dan domba. Sedangkan untuk unggas yakni ayam, itik dan burung mencapai 245.280 ekor serta produk ternak meliputi telur 114.800 ton, kulit kambing 972 ton, kulit sapi 971 ton dan daging sapi 26 ton. (sby)

30 April 2009

babi dilarang naik angkot

Jakarta, 30/4 (Forwatanews) - Departemen Pertanian mengeluarkan larangan kepada masyarakat untuk mengangkut babi dengan menggunakan angkutan umum guna mengantisipasi penularan virus Flu Babi.


Larangan tersebut merupakan salah satu instruksi yang dikeluarkan Departemen Pertanian terkait merebaknya wabah Flu Babi di sejumlah negara.


Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Jakarta, Rabu (29/4) mengatakan Instruksi telah diedarkan kepada seluruh kepala daerah baik bupati maupun gubernur untuk melakukan monitoring dan surveilance terhadap peternakan babi di daerahnya.


Termasuk juga kepala daerah diwajibkan mengawasi lalu lintas perdagangan babi hidup dan daging babi segar.


"Babi hidup dilarang diangkut dengan angkutan kendaraan umum ini untuk menghindari penularan baik kepada manusia maupun ternak," katanya.


Hanya babi sehat saja yang boleh dipotong dengan mempersyaratkan dimilikinya surat keterangan kesehatan ternak, dan hanya boleh dipotrong di rumah potong hewan (RPH).
Instruksi juga meliputi kewajiban kepala daerah untuk menerapkan biosecurity dab sanitasi pada peternakan babi. Tindakan dimaksud diantaranya pekerja peternakan wajib menggunakan sepatu khusus, kaca mata khusus dan masker hidung.


Kotoran ternak babi dilarang dibuang di sungai atau di lokasi umum-terbuka, dan harus dibuang di septik tank khusus. Tindakan ini dianggap paling memungkinkan mengingat belum ada vaksinasi atas babi yang efektif. Jika ada peternakan yang terinfeksi, maka harus peternakan tersebut harus diisolasi dan segera dilakukan stamping out.


Deptan juga akan segera melakukan surveilance atau pemeriksaan sampel darah 7,2 juta populasi babi di Indonesia pada dua pekan mendatang. Hasil uji pemeriksaan darah ini menentukan apakah flu babi sudah menjangkiti babi di Indonesia.
"Banyak negara mewaspadai penularan cepat penyakit ini, sehingga kami juga memandang perlu segera memeriksa darah babi. Memang butuh waktu dua minggu survei, baru setelah itu hasilnya baru bisa diumumkan," katanya.
Mentan menjelaskan gejala klinis babi terinfeksi virus antara lain nafsu makan menurun, malas, demam suhu tubuh tinggi, batuk-batuk, bersin, radang hidung, radang selaput mata dan gangguan pernafasan abdominal (nafas tersengal-sengal).


Penyakit infeksi virus ini pada babi dengan tingkat penularan tinggi namun tingkat kematiannya rendah hanya 4% dari total populasi yang terinfeksi. Namun ini tidak berlaku pada manusia. Pada manusia, tingkat penularan dan kematian sama tingginya.
Menurut kajian para ahli yang telah dilakukan sampai saat ini, kata Anton, belum ditemukan kasus flu babi merebak di babi di Indonesia. Ia meminta kepada masyarakat juga harus proaktif dalam hal ini kalau ada hewan babi yang ada gejala seperti itu harus segera dilaporkan ke dinas peternakan atau ke dokter hewan terdekat.


Terkait hal ini, hari ini, kata dia, menteri perdagangan telah menerbitkan SK Mendag 1977/KPTS/PD.620/IV/2009 tentang pelarangan sementara impor daging babi dan produknya.
Importasi daging babi segar maupun olahan selama 2008, menurut Dirjen Peternakan Tjeppy Darojatun Sudjana, tercatat 17 kali importasi. Yakni 707 ton daging babi segar dari Australia, 2 ton daging babi segar dari Selandia Baru, 46 ton daging olahan termasuk kaleng dari Australia, 1.801 ton babi olahan dari Tiongkok dan 42 kg babi olahan dari Belanda. (SBY)

20 April 2009

jelajah sulawesi

by: Rz.Subagyo
Hari masih siang ketika pesawat yang kami tumpangi dari Jakarta tiba ke bandara Gorontalo, tepatnya sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Itulah awal perjalanan kami menjelajahi sebagian kawasan pulau Sulawesi selama empat hari dari 13-16 April 2009.


Dari Bandar Udara Djalaludin kami berenam yakni Antara, AgroIndonesia, Republika, Sinar Tani, Pikiran Rakyat dan Sinar Harapan menuju ke Kabupaten Pohuwatu untuk bergabung dengan rombongan Menteri Pertanian yang sudah terlebih dahulu di sana.



Tanpa melalui hambatan yang berarti, perjalanan darat dari Gorontalo ke Pohuwatu ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam atau sekitar pukul 16.00 waktu setempat kami bertemu dengan rombongan wartawan yang sejak 9 april sudah mengikuti rally Mentan dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat hingga Sulawesi Tengah.



Akhirnya tongkat estafet diserahkan ke rombongan kami untuk mengikuti perjalanan Menteri Pertanian etape II dari Gorontalo hingga Manado Sulawesi Utara.


Ada yang unik di Kabupaten Pohuwatu yakni tempat Mentan menggelar acara adalah di sebuah pondok pesantren yang cukup besar dan terkenal (banyak santri yang bahkan berasal dari Jawa) namun lokasinya di wilayah masyarakat transmigran asal Bali yang notabene kebanyakan beragama Hindu. Hal itu terlihat dari sepanjang kanan kiri jalan yang banyak terdapat bangunan Pura. Pohuwatu sebuah kota kecil untuk mencari penginapan yang layakpun harus berputar-putar hingga akhirnya kami mendapatkan penginapan yang cukup istemewa yakni bercampur dengan kandang ayam...hee..hee..hee.






Tanpa dengan Menteri Pertanian, karena dia harus balik ke Jakarta, setelah ada panggilan Presiden, hari kedua perjalanan dimulai dengan meninjau sawah di Desa Duhiadaa untuk kemudian meninjau pusat pembibitan ternak sapi potong di UPTD dengan pimpinan Kabadan Litbang Gatot Irianto.




Kemudian kami melanjutkan perjalanan dari Gorontalo menuju ke Kabupaten Bolang Mongondow Utara wilayah Sulawesi Utara. Menuju kota ini kami baru merasakan benar-benar melakukan penjelajahan. Menyusuri wilayah Sulawesi yang masih berhutan-hutan, sesekali melewati padang serta kawasan-kawasan pemukiman penduduk dengan kondisi jalan yang kadang lurus namun tak jarang berkelok-kelok menembus pegunungan dengan guyuran hujan serta sempat terhadang tanah longsor.


Sampai Bolmut sudah menunjukkan pukul 22.00 lebih waktu setempat dan masih ada pertemuan dengan dinas setempat. selesai pertemuan saatnya istirahat dan menuju ke penginapan. kami berharap mendapatkan kamar yang lebih baik dari hrai pertema. Setelah berjuang dan susah payah mencari penginapan akhirnya dapatlah hotel Endang Rahayu, yang ternyata.... jauh banget dari "rahayu" (bc: bawah standar) . Bangunan penginapan itu seperti rumah2 koboi di film2 western, dari kayu dan berlantai dua, tempat tidurnyapun yang bertingkat dan di kamarku ada tiga. sedangkan untuk mandi dikamar mandi luar harus antri. Mungkin karena capek menikmati perjalanan, tidur di "barak" dan dengan banyak nyamuk serta bau apak, tak begitu dirasakan hingga pagi menjelang.









Dari Bolmut paginya perjalanan dilanjutkan ke Minahasa Selatan untuk melihat kawasan hortikultura, tepatnya perkebunan kentang, di Mondoinding. Pemandangan kiri kanan jalan yang mempesona membuat hati berdecak kagum dengan keindahan sebagian wilayah Indonesia ini. Danau Matoaa bagai seorang puteri yang belum terjamah lelaki, begitu anggun dengan ketenangan dan kejernihan airnya, hijau hutan sepanjang tepian danau menambah keanggunannya.


Usai melewati danau segeralah nampak perkebunan sayur seperti bawang merah, kentang maupun kol yang menghampar luas ganti berganti bagai rangkaian karpet tergelar di kaki pegunungan hingga sampailah kami ke wilayah sentra produksi kentang di MOndoinding. Ah...ternyata tak hanya pesona alam Minahasa Selatan yang memancarkan nuansa bening namun juga dari kemolekan paras wajah berkulit putih masyarakatnya yang sudah terkenal sejak dahulu. Tak heran jika mata kami tak pernah berkedip dan mulut tak henti berdecak kagum setiap melihat "keindahan-keindahan" melintas di depan kami.

Usai dari Mondoinding Minsel perjalanan dilanjutkan ke kawasan danao Tondano. Sayang sekali sampai di danao yang amat terkenal itu hari sudah malam sehingga keindahannya kurang terpancar dan tak bisa kami nikmati saat menghabiskan waktu santap malam. Dari Tondano kami menuju ke Manado untuk menghabiskan malam terakhir dari perjalanan di Sulawesi, sekitar pukul 24.00 sampai ke tempat penginapan. Syukurlah di malam ke tiga ini kami bisa tidur di ranjang yang lebih empuk dan nikmat dari malam-malam sebelumnya (Ya iyalah kan di hotel berbintang..hee..heee).








Karena jauh dari pusat kota dan sudah terlalu malam, plus capek akhirnya malam itu kami habiskan dengan tidur sepuasnya, apalagi besuknya acara juga tidak terlalu pagi, jadi bisa agak santai. Paginya......nikmati pemandangan pantai nan biru di belakang hotel. Begitu indah! Siang konpers dengan Menteri Pertanian di sebuah rumah makan dengan latar belakang pantai. Sekitar pukul 14.00 kami meninggalkan Manado untuk kembali ke dunia nyata di Jakarta.

07 April 2009

Bank Pertanian Agar Diwujudkan

Jakarta, 7/4 (Forwatanews) - Tercapainya produksi gabah nasional ternyata belum diikuti dengan penyediaan pinjaman yang bisa diserap puluhan juta petani. Melihat potensi sektor pertanian yang sangat besar.
Departemen Pertanian (Deptan) menilai perlunya pembentukan Bank Pertanian, untuk semakin memperbesar produksi pertanian, serta produksi komoditas lain.
''Indonesia ini negara agraris, dan sektor pertanian sudah menjadi unggulan program pemerintah, bahkan merupakan prestasi nasional. Tapi, bayangkan dari puluhan bank yang ada, tidak satupun ada bank pertanian, ini kan ironis,'' ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pertanian (Deptan), Sumarjo Gatot Irianto, usai acara diskusi ''Stimulus Pertanian Hadapi Krisis Finansial Dunia'', di Agro Wisata Gunung Mas, Bogor,Jawa Barat, Minggu (15/3) lalu.
Menurut dia, potensi pembentukan bank pertanian sudah ada, begitu juga dengan calon nasabah, karena ada 25 juta petani di Indonesia.

"Namun yang dibutuhkan adalah kemauan politik, mau tidak presiden (SBY), membentuk segera, karena memang sudah dibutuhkan petani,'' tutur Gatot.
Agar Bank Pertanian dapat melayani nasabah secara efektif dan efisien, maka bank tersebut harus dirancang sesuai dengan kekhasan karakteristik sektor pertanian dan pelaku usaha pertanian, misalnya seperti Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Menurut dia, saat ini pemerintah telah memprogramkan Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang diarahkan untuk terbentuknya LKM sebagai penolong pembiayaan bagi petani.

''Di Indonesia sudah terbentuk PUAP, yakni kucuran dana Rp 100 juta per gabungan kelompok tani (Gapoktan),'' jelas Gatot.
Tahun 2009, pemerintah akan mengucurkan lagi dana PUAP senilai Rp 1,1 triliun untuk 11 ribu gapoktan atau desa.
(SBY)