28 Mei 2009

Eksotika Madura

by:Rz.Subagyo
Mendengar nama Madura, ingatan kita pasti selalu tertuju pada sebuah pulau di wilayah Jawa Timur yang panas, kering dan gersang serta penduduknya yang berkulit coklat gelap dan memiliki temperamen keras.
Hal itu tentu tidaklah salah karena selama ini citra Madura di media massa sebagai penghasil jagung maupun garam tentu memiliki iklim yang panas sementara sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tak segan mengadu nyawa untuk membela diri semakin mempertebal kesan-kesan itu.
Namun mengikuti perjalanan Menteri Pertanian Anton Apriyantono selama 21-22 Mei 2009 lalu ke pulau yang terkenal dengan Karapan atau balapan Sapi nya itu sungguh membuat luntur seluruhan banyangan yang melekat selama ini tentang Madura tersebut, bahkan yang ada hanyalah kekaguman terhadap pulau itu.

Kamis pagi, pelabuhan Ujung Surabaya telah ramai dengan aktivitas penyeberangan. Pulau Madura yang dipisahkan dengan Pulau Jawa oleh Selat Madura itu tak menghentikan hilir mudik warga pulau tersebut yang hendak ke Jawa ataupun sebaliknya. Dengan menaiki kapal fery perjalanan melintasi selat tersebut hanya menempuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai pelabuhan Kamal di Bangkalan Madura.
Singgah sejenak di Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan, kemudian rombongan mengawali perjalanan menuju Desa Langkap Kecamatan Burneh Bangkalan untuk melihat keberhasilan peternak sapi Madura. Perjalanan hampir dua jam itu ditempuh tanpa rasa bosan karena sepanjang kanan kiri jalan terlihat pohon-pohon asam yang sudah berumur tua masih tegak berdiri, sesekali diselingi dengan hutan jati.

Dari Desa Langkap kami menuju Pondok Pesantren Al Hamidiyah di Kecamatan Konang yang merupakan wilayah paling timur kabupaten Bangkalan dan berbatasan dengan Kabupaten Sampang. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Desa Tombaru Barat, Kecamatan Ketapang untuk melihat perkebunan jambu mete. Sayang sekali pada saat itu sedang tidak musim jambu mete sehingga kami tidak bisa merasakan segarnya buah yang juga disebut jambu monyet itu. Namun melihat pepohonan berusia di atas 30 tahun itu sungguh mengesankan.

Kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sumenep. Perjalanan menuju kabupaten yang memiliki keraton ini sekitar satu setengah jam menempuh jalur pantai utara Madura. Tak disangka ternyata pantai-pantai di kawasan ini cukup mempesona dengan keindahan alam dan suasana yang tidak terlalu ramai sehingga air di pantai masih kelihatan jernih kebiruan. Suasana yang sudah memasuki senja semakin menambah keindahan nuansa alam sepanjang pantai utara Madura.

Malam hari rombongan menginap di Kabupaten Sumenep. Pagi hari perjalanan berlanjut untuk melihat pabrik pupuk organik di Desa Saronggi. Namun sebelumnya kami sempat mengunjungi pemakaman raja-raja Sumenep, Astana Tinggi. Kompleks pemakaman yang terletak di atas bukit itu bangunannya masih terlihat berdiri megah, meski tak bisa dipungkiri gurat-gurat ketuaan terlihat pada tembok-tembok yang sudah mulai mengelupas. Sepanjang kiri-kanan jalan menuju ke makam utama Astana Tinggi akan terlihat kompleks-kompleks makam kuna yang sebenarnya layak untuk dijadikan tujuan wisata.
Perjalanan kemudian berlanjut untuk menuju kebun Buah Naga yang ada di Desa ROmbesan Kecamatan Pragan, masih di Sumenep. Hujan sempat mengguyur wilayah ini di tengah kegiatan temu wicara Menteri Pertanian dengan petani buah naga.

Selanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Pamekasan. Perjalanan sekitar 1 jam 30 menit itu melalui pantai selatan Madura yang terdapat pohon siwalan, sejenis aren. Setelah Sholat Jumat di Mesjid Agung Pamekasan yang berlokasi tepat di tengah kota di samping alun-alun, kemudian menuju pendopo Pemda untuk berdialog dengan petani, penyuluh maupun unsur masyarakat lainnya.
Desa Camplong yang merupakan sentra jambu Camplong di Kabupaten Bangkalan sebagai tujuan terakhir rombongan melakukan perjalanan di Pulau Madura. Dua malam di Pulau Madura ternyata telah merubah bayangan kami terhadap pulau yang dijuluki Pulau Garam itu. Madura ternyata tidak hanya merupakan penghasil jagung maupun garam namun juga memiliki potensi pertanian lainnya.


Tak hanya keindahan alam dan beragamnya potensi pertanian namun kerajinan batik maupun ukiran serta penduduk yang ternyata tidak segarang jawara-jawara di televisi bahkan tak sedikit wajah-wajah nan indah terlihat dengan senyumnya membuktikan bahwa Madura ternyata memiliki daya eksotika yang masih tersimpan selama ini.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar