31 Mei 2009

PESTISIDA HARUS RAMAH LINGKUNGAN

Jakarta, 31/5 (Forwatanews) - Pasar pestisida atau obat-obatan pembasmi hama di masa datang menuntut produk yang lebih ramah lingkungan yakni yang aman bagi penggunanya.
Manager Produksi PT Syngenta Indonesia Arya Yudas di Jakarta, Kamis (28/5) mengatakan, selain itu juga dituntut lebih spesifik dalam pengendalian hama yakni tanpa membunuh serangga non target serta dosis penggunaannya lebih kecil.
"Dengan permintaan pasar seperti itu maka pestisida yang hanya menggandalkan keampuhan membunuh serangga namun tidak ramah lingkungan cenderung akan ditinggalkan masyarakat," katanya dalam diskusi dengan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan).
Terkait dengan hal itu PT Syngenta, perusahaan multinasional asal Amerika Serikat perkenalkan produk pestisida ramah lingkungan yang penerapannya tidak dengan penyemprotan dan ditabur namun perlakuannya saat masih dalam benih.
Menurut dia produk bernama Cruiser itu bukan hanya ramah lingkungan, tapi diharapkan dapat membantu petani mengatasi serangan hama penyakit dan meningkatkan produktivitas tanaman.
Saat ini, tambahnya, hama penyakit yang kerap menyerang tanaman jagung yakni lalat bibit, wereng dan kutu daun sedangkan hama pada tanaman padi yakni wereng hijau, virus tungro dan hama trips.Arya mengatakan dari hasil uji coba yang dilakukan IPB, penggunaan Cruiser mampu meningkatkan produksi padi untuk GKP dari sekitar 5,4 ton/ha menjadi sekitar 7,36 ton/ha, sedangkan untuk gabah kering giling (GKG) naik dari 4,76 ton/ha menjadi 6,72 ton/ha. Dari hasil analisa usaha pada tanaman padi, lanjutnya untuk tanaman yang tidak menggunakan produk Cruiser, jika hasil panen padi 6,4 ton/ha dan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp2.500/kg, pendapatan petani sekitar Rp16 juta/ha.Sedangkan usaha tani yang menggunakan Cruiser, hasil panen akan meningkat sekitar 7,36 ton/ha. Dengan harga gabah Rp2.500/kg, pendapatan petani akan naik menjadi Rp18,48 juta.
Jika dikurangi biaya untuk membeli Cruiser sekitar Rp150 ribu, maka pendapatan petani masih sebanyak Rp18,25 juta. Artinya, ada kelebihan pendapatan sekitar Rp2,25 juta.Selain keuntungan meningkatnya pendapatan, petani juga masih bisa berhemat dengan tidak mengeluarkan biaya untuk penyemprotan pestisida dalam satu bulan sekitar Rp500 ribu. Produk yang diluncurkan April lalu, diharapkan penjualan produk Cruiser ini bisa mencapai 5 ton pada tahun ini.
Pertumbuhan penjualan ditargetkan sekitar 20-25 persen per tahun dengan nilai sekitar Rp10 miliar.Menyinggung nilai penjualan produk pestisida oleh PT Sygenta secara keseluruhan, Arya mengungkapkan untuk tahun ini mencapai 120 juta dolar AS dari 35 produk lama dan tiga produk baru naik dibanding tahun 2008 yang hanya 100 juta dolar AS. (sby)

28 Mei 2009

Eksotika Madura

by:Rz.Subagyo
Mendengar nama Madura, ingatan kita pasti selalu tertuju pada sebuah pulau di wilayah Jawa Timur yang panas, kering dan gersang serta penduduknya yang berkulit coklat gelap dan memiliki temperamen keras.
Hal itu tentu tidaklah salah karena selama ini citra Madura di media massa sebagai penghasil jagung maupun garam tentu memiliki iklim yang panas sementara sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tak segan mengadu nyawa untuk membela diri semakin mempertebal kesan-kesan itu.
Namun mengikuti perjalanan Menteri Pertanian Anton Apriyantono selama 21-22 Mei 2009 lalu ke pulau yang terkenal dengan Karapan atau balapan Sapi nya itu sungguh membuat luntur seluruhan banyangan yang melekat selama ini tentang Madura tersebut, bahkan yang ada hanyalah kekaguman terhadap pulau itu.

Kamis pagi, pelabuhan Ujung Surabaya telah ramai dengan aktivitas penyeberangan. Pulau Madura yang dipisahkan dengan Pulau Jawa oleh Selat Madura itu tak menghentikan hilir mudik warga pulau tersebut yang hendak ke Jawa ataupun sebaliknya. Dengan menaiki kapal fery perjalanan melintasi selat tersebut hanya menempuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai pelabuhan Kamal di Bangkalan Madura.
Singgah sejenak di Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan, kemudian rombongan mengawali perjalanan menuju Desa Langkap Kecamatan Burneh Bangkalan untuk melihat keberhasilan peternak sapi Madura. Perjalanan hampir dua jam itu ditempuh tanpa rasa bosan karena sepanjang kanan kiri jalan terlihat pohon-pohon asam yang sudah berumur tua masih tegak berdiri, sesekali diselingi dengan hutan jati.

Dari Desa Langkap kami menuju Pondok Pesantren Al Hamidiyah di Kecamatan Konang yang merupakan wilayah paling timur kabupaten Bangkalan dan berbatasan dengan Kabupaten Sampang. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Desa Tombaru Barat, Kecamatan Ketapang untuk melihat perkebunan jambu mete. Sayang sekali pada saat itu sedang tidak musim jambu mete sehingga kami tidak bisa merasakan segarnya buah yang juga disebut jambu monyet itu. Namun melihat pepohonan berusia di atas 30 tahun itu sungguh mengesankan.

Kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sumenep. Perjalanan menuju kabupaten yang memiliki keraton ini sekitar satu setengah jam menempuh jalur pantai utara Madura. Tak disangka ternyata pantai-pantai di kawasan ini cukup mempesona dengan keindahan alam dan suasana yang tidak terlalu ramai sehingga air di pantai masih kelihatan jernih kebiruan. Suasana yang sudah memasuki senja semakin menambah keindahan nuansa alam sepanjang pantai utara Madura.

Malam hari rombongan menginap di Kabupaten Sumenep. Pagi hari perjalanan berlanjut untuk melihat pabrik pupuk organik di Desa Saronggi. Namun sebelumnya kami sempat mengunjungi pemakaman raja-raja Sumenep, Astana Tinggi. Kompleks pemakaman yang terletak di atas bukit itu bangunannya masih terlihat berdiri megah, meski tak bisa dipungkiri gurat-gurat ketuaan terlihat pada tembok-tembok yang sudah mulai mengelupas. Sepanjang kiri-kanan jalan menuju ke makam utama Astana Tinggi akan terlihat kompleks-kompleks makam kuna yang sebenarnya layak untuk dijadikan tujuan wisata.
Perjalanan kemudian berlanjut untuk menuju kebun Buah Naga yang ada di Desa ROmbesan Kecamatan Pragan, masih di Sumenep. Hujan sempat mengguyur wilayah ini di tengah kegiatan temu wicara Menteri Pertanian dengan petani buah naga.

Selanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Pamekasan. Perjalanan sekitar 1 jam 30 menit itu melalui pantai selatan Madura yang terdapat pohon siwalan, sejenis aren. Setelah Sholat Jumat di Mesjid Agung Pamekasan yang berlokasi tepat di tengah kota di samping alun-alun, kemudian menuju pendopo Pemda untuk berdialog dengan petani, penyuluh maupun unsur masyarakat lainnya.
Desa Camplong yang merupakan sentra jambu Camplong di Kabupaten Bangkalan sebagai tujuan terakhir rombongan melakukan perjalanan di Pulau Madura. Dua malam di Pulau Madura ternyata telah merubah bayangan kami terhadap pulau yang dijuluki Pulau Garam itu. Madura ternyata tidak hanya merupakan penghasil jagung maupun garam namun juga memiliki potensi pertanian lainnya.


Tak hanya keindahan alam dan beragamnya potensi pertanian namun kerajinan batik maupun ukiran serta penduduk yang ternyata tidak segarang jawara-jawara di televisi bahkan tak sedikit wajah-wajah nan indah terlihat dengan senyumnya membuktikan bahwa Madura ternyata memiliki daya eksotika yang masih tersimpan selama ini.









26 Mei 2009

BARANTAN ANTISIPASI PEMBUKAAN SURAMADU

Jakarta, 26/5 (Forwatanews) - Pembukaan jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa,melalui Surabaya dengan Madura diperkirakan tidak hanya meningkatkan lalulintas manusia dari dan ke dua wilayah tersebut namun juga binatang ternak yang berpotensi membawa penyakit hewan.
Badan Karantina Pertanian (Barantan) Departemen Pertanian siap mengantisipasi masuknya hama dan penyakit hewan maupun tumbuhan ke wilayah Madura pasca pembukaan jembatan Suramadu.
Kepala Barantan Hary Priyono di Kabupaten Bangkalan Madura, Kamis (21/5) mengatakan, saat ini Madura merupakan kawasan yang bebas dari penyakit ternak sementara itu pasca pembukaan jembatan Suramadu yang akan dilakukan pada 10 Juni 2009 dipastikan lalu lintas hewan dari Jawa ke Madura akan meningkat.
"Oleh karena itu kita akan membangun instalasi karantina untuk melakukan pemeriksaan hewan di kawasan masuk Madura dekat jembatan tersebut," katanya disela kunjungan Menteri Pertanian Anton Apriyantono ke Madura selama 21-22 Mei 2009 lalu.

Menurut Hary, instalasi karantina yang akan dibangun di dekat jembatan Suramadu tersebut nantinya seperti jembatan timbang sehingga untuk pemeriksaan angkutan yang membawa hewan ternak tidak memerlukan waktu lama.

"Kita tinggal meminta polisi untuk membelokkan angkutan hewan ternak tersebut ke jembatan timbang itu," katanya.

Dikatakannya, saat ini prototipe instalasi serupa berada di Stasiun Karantina Pertanian Merak Banten sehingga dengan dikembangkannya model tersebut di Madura nantinya akan ada dua unit di Indonesia.

Ketika ditanyakan anggaran pengembangan instalasi karantina tersebut, mantan Kabiro Humas Deptan itu mengatakan, sekitar Rp2 miliar dan teknologinya berasal dari dalam negeri.

Sedangkan menyinggung realisasi pembangunan instalasi karantina hewan di Madura tersebut dia mengatakan, kemungkinan 2010 baru bisa diwujudkan.

Sebelumnya Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan Madura, Cicik Sri Sukarsih menyatakan, hingga saat ini Pulau Madura masih bebas dari penyakit hewan karantina seperti Brucellosis, IBR dan Rabies.

Berbagai upaya yang dilakukan untuk menjaga Pulau Madura bebas dari penyakit hewan karantina, lanjutnya, yakni pelarangan pemasukan hewan memamah biak ke Pulau Madura berkaitan pemurnian plasmanutfah sapi Madura serta pelarangan pemasukan babi ke wilayah tersebut.

Sedangkan untuk menjaga masuknya penyakit rabies, menurut dia, dibantu oleh sikap masyarakat yang umumnya mereka tidak memelihara anjing.

Menyinggung jumlah binatang ternak yang masuk ke Madura, Cicik yang dokter hewan itu mengungkapkan, pada 2008 total mencapai 1,43 juta ekor terdiri dari ayam, anak ayam (DOC), telur, itik, kuda, kambing, sapi limosin dan sapi Madura.

Sementara itu jumlah ternak yang keluar dari Madura pada tahun lalu untuk hewan mencapai 87.578 ekor terdiri sapi potong, sapi bibit, kuda, kambing, kerbau, kelinci dan domba. Sedangkan untuk unggas yakni ayam, itik dan burung mencapai 245.280 ekor serta produk ternak meliputi telur 114.800 ton, kulit kambing 972 ton, kulit sapi 971 ton dan daging sapi 26 ton. (sby)

11 Mei 2009

SAPI BRAZIL DARI 10 NEGARA BAGIAN

Jakarta, (FORWATANEWS) - Kalangan pengusaha asal Brasil mengungkapkan pasokan daging sapi dari negara tersebut yang akan diekspor ke Indonesia berasal dari 10 wilayah atau negara bagian.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Sapi Brasil (Abraforigo) Thomas CS Kim di Jakarta, Selasa mengatakan, jika pasokan ekspor daging sapi hanya mengandalkan negara bagian Santa Catarina tidak akan cukup. "Oleh karena itu pasokan daging sapi tersebut juga didatangkan dari 10 negara bagian lain yang telah bebas PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) dengan vaksinasi," katanya di sela kunjungan delegasi Brazil ke Indonesia.Selama 3-5 Mei 2009 delegasi pertanian asal Brasil mengunjungi Indonesia untuk membahas kerjasama pertanian kedua negara termasuk salah satunya rencana Indonesia mengimpor daging sapi asal salah satu negara Amerika Latin tersebut. Selain dari pemerintahan yakni kementerian Pertanian, Ke 10 negara bagian tersebut, tambahnya yakni Sao Paulo, Tocantins, Minas Gerais, Goias, Mato Grosso, Mato Grosso Do Sul, Rio Grande Do Sul, Rondonia, Acre dan Santa Catarina.Dari 10 negara bagian tersebut, hanya Santa Catarina yang dinyatakan bebas PMK tanpa vaksinasi oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (IOE).Menyinggung volume daging sapi yang akan diekspor ke Indonesia, Thomas Kim yang juga Business Development & Export Director Cooperfrigu (perusahaan pemotongan sapi) tidak menyebutkan angka pasti.Menteri Pertanian pada 8 April 2009 telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) no 20 tahun 2009 tentang Pemasukan dan Pengawasan Peredaran Karkas, Daging dan/atau Jeroan dari Luar Negeri yang salah satunya menyinggung persyaratan yang harus dipenuhi negara asal.Sementara itu Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Adi Sasono menyatakan, impor daging sapi dari Brazil diharapkan mampu menurunkan harga daging di dalam negeri sehingga terjangkau oleh masyarakat.Saat ini, tambahnya, ketergantungan Indonesia pada pasokan daging sapi dari Australia dan Selandia Baru menjadikan tata niaga komoditas pangan tersebut tidak sehat sehingga harga di pasar tinggi.Menurut dia, harga daging sapi di Indonesia saat ini mencapai 5-6 dolar AS/kg sedangkan di negara-negara lain hanya 3 dolar AS/kg."Oleh karena itu kita ingin mengimbangi ketergantungan impor dari Australia dan Selandia Baru itu dengan mendatangkan dari Brasil dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih bagus," katanya.Namun demikian, menurut mantan Menteri Koperasi dan UKM itu, impor daging dari Brasil diharapkan tidak akan berlangsung lama dan nantinya menjadi kerjasama pengembangan ternak sapi dalam negeri.Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, lanjutnya, pengembangan ternak di tanah air juga untuk mengantisipasi pasar bersama Asia Tenggara 2015. (SBY)

berita hari ini

sedang dalam pencarian