13 Juni 2009

13 juni

will be done

12 Juni 2009

Barantan miliki Pasukan K9

Tak hanya korps gegana atau satuan anti narkobaPolri yang memiliki anjing pelacak untuk menemukan barang-barang berbahaya, tapi Badan Karantina Pertanian (BArantan) Departemen Pertanian tak mau kalah dengan memanfaatkan binatang ini dalam kegiatan kerjanya.
Pasukan anjing pelacak yang juga dikenal dengan istilah K9 ( dibaca: Kei nain) ini memiliki tugas untuk melacak benda-benda yang dicurigai mengandung hama dan penyakit tumbuhan/hewan yang dikuatirkan terbawa masuk ke Indonesia dari luar bareng dengan produk yang diimpor dari negara lain.
Sayangnya saat ini pasukan K9 Badan Karantina Pertanian baru satu ekor anjing yang diberi nama Charlie. Pada 10 Juni 2009 lalu Charlie memperagakan kemampuannya melacak barang-barang berbahaya dari segi keamanan hewan/tumbuhan di hadapan masyarakat yang menyaksikan pencanangan Bulan Bakti Karantina oleh Kabarantan Hari Priyono di Bandara Soekarno-Hatta. Di hadapan para penonton, Charlie dengan lincahnya mencari-cari setiap kardus yang dicurigai mengandung bahan-bahan berbahaya. Hidungnya mengendus-endus sembari sesekali dia berhenti sejenak di depan kardus-kardus jika tercium bau yang tak lazim. Sayang ketika ditanyakan kesannya selama jadi pasukan Quarantine K9 serta pasangannya, Charlie hanya diam saja seperti selebritis yang selalu bersikap "no comment" terhadap pertanyaan-pertanyaan yang menyentil kehidupan pribadinya. (SBY)

02 Juni 2009

KONSUMSI KAKAO HANYA 0,1KG/TAHUN

Jakarta, (Forwatanews) - Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian mengungkapkan, saat ini konsumsi kakao atau coklat masyarakat Indonesia masih sangat rendah yakni hanya 0,1 kg per kapita per tahun, jauh di bawah negara tetangga.
Dirjen Perkebunan Achmad Mangga Barani di Jakarta, Senin (1/6)mengatakan, Indonesia merupakan produsen kakao kedua terbesar di dunia namun konsumsinya jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai 10 kg/kapita/tahun.
"Oleh karena itu ke depan kita akan meningkatkan konsumsi kakao masyarakat menjadi 1 kg per kapita per tahun," katanya ketika meresmikan cafe d'coccoa di gedung Deptan.
Menurut dia, salah satu upaya untuk meningkatkan konsumsi kakao di masyarakat yakni dengan membuka gerai penyedia minuman maupun berbagai jenis makanan berbahan baku coklat di tempat-tempat umum seperti bandara maupun instansi pemerintah seperti yang dikembangkan di Deptan dengan cafe d'coccoa.
Saat ini, lanjutnya, sejumlah pemda telah menyetujui untuk untuk mengembangkan gerai-gerai semacam cafe d'coccoa yang dikelola Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) tersebut di bandara wilayah mereka diantaranya Sulawesi Barat maupun Sumatera Barat.
"Pengembangan gerai ini memang tidak di semua bandara namun terutama untuk bandara-bandara yang besar," katanya.
Tanpa menyebut angka pasti Mangga Barani mengungkapkan, meskipun cafe d'coccoa yang diberlokasi di Deptan baru beroperasi kurang dari dua bulan namun omzetnya sudah cukup lumayan.
Pada kesempatan itu Dirjen juga menyatakan, ke depan Indonesia menjadi harapan sebagai pemasok biji kakao bagi pasar internasional karena produksi di negara-negara produsen terbesar seperti Ghana dan Pantai Gading menunjukkan penurunan.
Selain itu, lanjutnya, kondisi keamanan dalam negeri juga relatif stabil dibandingkan kedua negara tersebut juga turut membantu pengembangan kakao di tanah air yang mana pada 2020 ditargetkan mencapai 2 juta ton untuk memenuhi permintaan dunia yang terus meningkat sebesar 5 persen per tahun. Saat ini produksi kakao nasional sebanyak 500 ribu ton berada diurutan ketiga produsen kakao terbesar dunia dibawah Pantai Gading dan Ghana yang masing-masing sebanyak 1,3 juta ton dan 740 ribu ton.
Namun, dia menyayangkan saat ini sekitar 70 persen ekspor masih dalam bentuk biji mentah sedangkan 30 persen sisanya diolah industri dalam negeri, sehingga ke depan industri pengolahan kakao nasional harus lebih dikembangkan.
(sBY)