02 Juni 2009

KONSUMSI KAKAO HANYA 0,1KG/TAHUN

Jakarta, (Forwatanews) - Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian mengungkapkan, saat ini konsumsi kakao atau coklat masyarakat Indonesia masih sangat rendah yakni hanya 0,1 kg per kapita per tahun, jauh di bawah negara tetangga.
Dirjen Perkebunan Achmad Mangga Barani di Jakarta, Senin (1/6)mengatakan, Indonesia merupakan produsen kakao kedua terbesar di dunia namun konsumsinya jauh di bawah rata-rata dunia yang mencapai 10 kg/kapita/tahun.
"Oleh karena itu ke depan kita akan meningkatkan konsumsi kakao masyarakat menjadi 1 kg per kapita per tahun," katanya ketika meresmikan cafe d'coccoa di gedung Deptan.
Menurut dia, salah satu upaya untuk meningkatkan konsumsi kakao di masyarakat yakni dengan membuka gerai penyedia minuman maupun berbagai jenis makanan berbahan baku coklat di tempat-tempat umum seperti bandara maupun instansi pemerintah seperti yang dikembangkan di Deptan dengan cafe d'coccoa.
Saat ini, lanjutnya, sejumlah pemda telah menyetujui untuk untuk mengembangkan gerai-gerai semacam cafe d'coccoa yang dikelola Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) tersebut di bandara wilayah mereka diantaranya Sulawesi Barat maupun Sumatera Barat.
"Pengembangan gerai ini memang tidak di semua bandara namun terutama untuk bandara-bandara yang besar," katanya.
Tanpa menyebut angka pasti Mangga Barani mengungkapkan, meskipun cafe d'coccoa yang diberlokasi di Deptan baru beroperasi kurang dari dua bulan namun omzetnya sudah cukup lumayan.
Pada kesempatan itu Dirjen juga menyatakan, ke depan Indonesia menjadi harapan sebagai pemasok biji kakao bagi pasar internasional karena produksi di negara-negara produsen terbesar seperti Ghana dan Pantai Gading menunjukkan penurunan.
Selain itu, lanjutnya, kondisi keamanan dalam negeri juga relatif stabil dibandingkan kedua negara tersebut juga turut membantu pengembangan kakao di tanah air yang mana pada 2020 ditargetkan mencapai 2 juta ton untuk memenuhi permintaan dunia yang terus meningkat sebesar 5 persen per tahun. Saat ini produksi kakao nasional sebanyak 500 ribu ton berada diurutan ketiga produsen kakao terbesar dunia dibawah Pantai Gading dan Ghana yang masing-masing sebanyak 1,3 juta ton dan 740 ribu ton.
Namun, dia menyayangkan saat ini sekitar 70 persen ekspor masih dalam bentuk biji mentah sedangkan 30 persen sisanya diolah industri dalam negeri, sehingga ke depan industri pengolahan kakao nasional harus lebih dikembangkan.
(sBY)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar